Rabu, 15 Mei 2013

PRINSIP-PRINSIP IBADAH

Pekerjaan/amalan yang baik itu belum tentu ibadah. Amalan itu harus memenuhi syarat untuk masuk dalam amalan ibadah.

IBADAH secara khusus diberi arti: Tatacara hubungan hamba dengan Alloh SWT atau upaya TAQORRUB (pendekatan diri) hamba kepada Allah; dengan mentaati segala perintahNya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Dengan prinsip: (1). Al-Ashlu fil Ibaadati al Buthlaan hatta Yaquuma daliilum alal Amri  yang bermaksud pada dasarnya semua ibadah itu dibatalkan (dilarang) kecuali hadirnya dalil yang memerintah (2). Al-Ashlu fil Ibaadati al-Itbaa’ wal Ikhlash yang artinya  pada dasarnya semua bentuk ibadah itu (tinggal tunduk) mengikuti dan ikhlas (dalam mengikuti perintah) dari Allah. (3). Al-Ashlu fil Ibaadati at Tauqiifi wal Itbaa’ yang berarti pada dasarnya ibadah itu (haruslah dengan) mendirikan/melaksanakan dan mengikuti ( perintah-syariat dari Allah). (4). Wal Ibaadatul Khaashshah Hiya Maa Haddadahus Syaari’u fiiha bi Juz’iyyaatin wa Haiaatin wa Kaifiyyaatin Makhshushoh yang bermakna Ibadah khusus yaitu sesuatu yang telah ditetapkan oleh hukum syara’ prihal : bagian-bagiannya, tingkah dan cara-caranya. (5). Wal Ibaadatul ‘Aammah Hiya Kullu Amalin Adzina bihis Syaari’u yang artinya Dan ibadah umum itu ialah segala amalan yang diizinkan oleh hukum syara’ dari Allah SWT.  
Faham Islam Manhajiy = Yaitu faham Islam yang dalam penetapan faham cara berfikir, bersikap dan berbuat ( lebih-lebih dalam pengamalan agama ) selalu merujuk dan mengutamakan manhaj ( jalan-terang yang ditunjuki oleh dalil-dalil ) yang nyata dari hukum syari’ah. Seperti faham Islam menurut Muhammadiyah.
Faham Islam Mazhabiy merupakan faham Islam yang dalam penetapan faham cara berfikir, bersikap dan berbuat ( juga dalam pengamalan agama ) selalu merujuk dan mengutamakan mazhab ( bingkai faham dari kelompok mazhabnya ). Seperti banyak contoh dari faham-faham Islam yang menganut faham-mazhabnya tertentu.
Ranah-Ta’abbudiy yaitu wilayah “ibadah” misalnya: Tanggal 1 Ramadlan, kita harus berpuasa, itu wilayah ibadah. Semua umat Islam bersikap-sepakat dan berperilaku sama dalam menunaikan kewajiban ibadah puasa pada 1 Ramadlan ini. Namun cara penentuan 1 Ramadlan (dan penentuan awal-awal bulan Qoamriyah lainnya), baik dengan cara hisab atau rukyat, itu adalah wilayah Ijtihad-Ta’aaqquli.
Ranah-Ta’aqquliy yaitu wilayah  “nalar atau akal-pikiran” Misalnya:  Dalam tayammum, tapak-tangan setelah diusapkan ke permukaan yang berdebu lalu ditiup itu wilayah-ta’abbudiy. Kalau orang tidak meniupnya, dengan alasan tapak-tangan tidak berlumuran debu, maka itu wilayah-ta’aqquliy, sebab beraroma rekayasa akal. (HM. Asrori Ma'ruf).

  

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host